Tampilkan postingan dengan label Ilustrasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilustrasi. Tampilkan semua postingan
Holianto

Hidup kita sebagai pensil.
Wow ...

Engkau bisa mengerjakan banyak hal besar, asal engkau mengijinkan
dirimu berada dalam genggaman tangan seseorang.

Engkau akan mengalami penajaman dari waktu ke waktu, tapi ini
dibutuhkan agar engkau dapat menjadi pensil yang lebih baik.

Engkau memiliki kemampuan untuk memperbaiki kesalahan yang mungkin
sudah engkau lakukan.

Bagian terpenting dari dirimu, adalah apa yang ada didalam dirimu.

Apapun keadaannya, engkau harus terus menulis. Engkau harus selalu
menuliskan sesuatu yang jelas untuk dibaca, tidak perduli betapa
sulit keadaannya.

Sekarang gantikan pensil dengan dirimu masing-masing; Ingatlah selalu
aturan ini dan jangan pernah melupakannya, dengan begitu engkau akan
menjadi orang seperti yang engkau inginkan.

Engkau akan mampu melakukan banyak hal-hal yang besar, jika engkau
mengijinkan hidupmu berada dalam tangan Tuhan, dan mengijinkan orang
lain untuk memanfaatkan semua talenta yang engkau miliki.

Engkau akan mengalami penajaman yang menyakitkan dari waktu ke waktu,
dengan melalui berbagai macam persoalan, tapi engkau membutuhkan
semuanya itu untuk membuat engkau menjadi orang yang lebih kuat.

Engkau akan mampu melakukan koreksi atas kesalahan-kesalahan yang
mungkin engkau perbuat dan bahkan semakin bertumbuh melalui
kesalahan-kesalahan tersebut.

Dalam setiap langkahmu, engkau harus meninggalkan jejakmu.
Tidak perduli apapun keadaannya, engkau harus selalu melayani Tuhan
dalam segala hal.

Setiap orang adalah ibarat sebuah pensil....
Dibuat oleh penciptaNya untuk sebuah tujuan yang khusus dan unik.

Dengan selalu mengingat dan mengerti, mari kita mengerjakan kehidupan
kita didunia ini, dengan tujuan yang berarti dan memiliki hubungan
yang karib dengan Allah setiap hari.
read more “Hidup Kita Seperti Pensil”
Holianto
Apakah anda tahu hubungan antara 2 biji mata anda ?
Mereka berkedip bersama, bergerak bersama,menangis bersama,
melihat bersama dan tidur bersama meskipun mereka tidak pernah
melihat antara satu sama lain...

Kawan .. persahabatan seharusnya seperti itu...Disaat senang
bersama dan disaat sedang mengalami masalah juga bersama ...

Tetapi berapa banyak orang yang disaat senang mereka turut
ambil bagian, tetapi begitu sahabatnya sedang dalam masalah
mereka dengan "tega" nya meninggalkan sahabatnya ??

Sobat ,, Mari kita saling berbagi . disaat senang dan disaat
susah. Mari kita menerapkan "Kasih" yang diajarkan Yesus dalam
kehidupan kita.

"Bersukacitalah dengan orang yang besukacita, dan menangislah
dengan orang yang menangis!"
(Roma 12:15)

Tuhan memberkati
read more “Apakah anda tahu hubungan antara 2 biji mata anda ?”
Holianto
Seorang tukang kayu tua bermaksud pension dari pekerjaannya di sebuah perusahaan kontruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut kepada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada si tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk miliknya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia Cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.

Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri karirnya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahan itu datang melihat rumah yang dimintainya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu“ katanya ”hadiah dari kami”. Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesal. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi dalam kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan, kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadari sejak semula, kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkanlah rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan.

~ Anonymous


read more “Tukang Kayu”
Holianto
Di suatu hutan hiduplah sekelompok monyet. Pada suatu hari, tatkala mereka tengah bermain, tampak oleh mereka sebuah toples kaca berleher panjang dan sempit yang bagian bawahnya tertanam di tanah. Di dasar toples itu ada kacang yang sudah dibubuhi dengan aroma yang disukai monyet. Rupanya toples itu adalah perangkap yang ditaruh di sana oleh seorang pemburu.Salah seekor monyet muda mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam toples untuk mengambil kacang-kacang tersebut. Akan tetapi tangannya yang terkepal menggenggam kacang tidak dapat dikeluarkan dari sana karena kepalan tangannya lebih besar daripada ukuran leher toples itu. Monyet ini meronta-ronta untuk mengeluarkan tangannya itu, namun tetap saja gagal. Seekor monyet tua

menasihati monyet muda itu, "Lepaskanlah kepalanmu atas kacang-kacang itu! Engkau akan bebas dengan mudah!"Namun monyet muda itu tidak mengindahkan anjuran tersebut, tetap saja ia bersikeras menggenggam kacang itu. Beberapa saat kemudian, sang pemburu datang dari kejauhan. Sang monyet tua kembali meneriakkan nasihatnya, "Lepaskanlah kepalanmu sekarang juga agar engkau bebas!"Monyet muda itu ketakutan, namun tetap saja ia bersikeras untuk mengambil kacang itu. Akhirnya, ia tertangkap oleh sang pemburu.Demikianlah, kadang kita juga sering mencengkeram dan tidak rela melepaskan hal-hal yang sepatutnya kita lepaskan: kemarahan, kebencian, iri hati, ketamakan, dan sebagainya. Apabila kita tetap tak bersedia melepas, tatkala kematian datang "menangkap" kita, semuanya akan terlambat sudah. Bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lampau, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah dunia akan menjadi lebih indah jika kita bisa melepaskan "kepalan" kita dan membagi kebahagiaan dengan orang lain ?

Kata Bijak :Waktu luang berarti kesempatan untuk melakukan sesuatu, namun seringkali berubah arti menjadi kesempatan untuk tidak melakukan apa-apa
read more “Lepaskan ikatanmu”
Holianto
Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir; HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENAMPAR PIPIKU. Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, di mana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya.Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu; HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENYELAMATKAN NYAWAKU.Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya,"Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?"Temannya sambil tersenyum menjawab ; "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita,agar tidak bisa hilang tertiup angin."Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dankonflik dengan suami / isteri, kekasih, adik / kakak, kolega, dll, karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu. Manfaat positif dari continuous relationship mungkin sekali jauh lebih besar ketimbang kekecewaan masa lalu. Nobody's perfect. Belajarlah menulis di atas pasir.
read more “Menulis di pasir”
Holianto
"Kan Shu De Gu Shi"Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerjauntuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dankondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calonpenebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak danmenunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktuyang telah ditentukan kepada si penebang pohon.Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sorehari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan danmemberikan pujian dengan tulus, "Hasil kerjamu sungguh luar biasa!Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belumpernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja sepertiitu."Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebangbekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapihasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakinbertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasildirobohkan. "Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dankekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawab kan hasilkerjaku kepada majikan?" pikir penebang pohon merasa malu dan putusasa.Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maafatas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apayang telah terjadi.Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, "Kapan terakhir kamumengasah kapak?""Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuksetiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuattenaga," kata si penebang."Nah, di sinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengankapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasilluar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama,menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri,hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apa pun, kamu harusmeluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerjadengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailahmengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!" perintah sang majikan.Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, sipenebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak."Xiu Xi Bu Shi Zou Deng Yu Chang De Lu"Istirahat bukan berarti berhenti."Er Shi Yao Zou Geng Chang De Lu"Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi.Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagihingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk,sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang samapentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-halbaru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kitamampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akanmenjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru!
read more “Kisah Si Penebang Pohon”